Intimidasi Ala Kampus
  • Prodi Sosiologi
  • 03. 08. 2020
  • 0
  • 509

(Menanggapi Helmy N.Hakim)

Oleh: Nurkhalis, M.Sosio*

Helmy N Hakim (HNH) dalam opininya Politik Intimidasi (Serambi, 16/5/2011) terlihat sangat resah melihat fenomena intimidasi di Aceh menjelang Pemilukada 2011. Keresahannya terpicu pemberitaan penurunan paksa juru dakwah dari panggung di salah satu desa di Kabupaten Pidie karena isi dakwahnya dinilai mengganggu kestabilan politik kelompok tertentu (Serambi, 14/5/2011). Di satu sisi, kegusaran HNH dipandang wajar karena hal itu dapat membunuh benih-benih demokrasi yang sedang dipupuki di Aceh pascadamai.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “intimidasi” bermakna tindakan menakut-nakuti (terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu); gertakan; ancaman. Merujuk pada definisi KBBI, intimidasi dapat terjadi dalam berbagai varian yang intinya hendak membuat pihak lain berada dalam ketakutan, kegusaran dan kegelisahan. Intimidasi pun dapat terjadi di berbagai tempat. Atasan dapat menakuti-nakuti bawahannya agar tidak mempekarakan kebijakan boss, dosen dapat mengancam mahasiswa akan nilai akhir, dan sebagainya.

Sebenarnya kegusaran HNH itu tidak seberapa. Sebab, jika ditelusuri lebih jauh ternyata negeri ini memang sudah ditakdirkan sebagai “zona intimidasi”. Intimidasi bin teror terjadi dimana-mana, dalam berbagai wajah. Ada intimidasi berwajar kasar bin seram, ada pula intimasi berbungkus kertas kado yang dari luar terlihat indah tetapi sesungguhnya menyimpan bara yang dapat menghanguskan nilai demokrasi dan penghinaan intelektual.

Teror di Kampus

Di kampus, aroma intimidasi itu tericium kental, bahkan diakui secara terbuka oleh akademisi. Menjelang hari H Pemilihan Rektor Unsyiah periode 2010-2014, kita tersentak pemberitaan berjudul “Cegah Teror, Puluhan Anggota Senat Diinapkan di Hotel”. “Tidak benar saya mengarantina para anggota senat. Yang saya lakukan hanyalah upaya wajar untuk mengamankan mereka dari ancaman terror,” ujar Darni saat itu (Serambi, 25/3/2010).

Berbeda dengan HNH, Prof Dr Darni bahkan menggunakan kata yang mempunyai makna lebih keras dari intimidasi, yaitu “teror”. Menurut KBBI, teror mempunyai makna usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Jika intimidasi hanya sebatas ancaman, maka teror lebih dari itu ingin menciptakan kengerian dan kekejaman. Karenanya, gerakan dari kelompok yang hendak menciptakan kegaduhan publik disebut “teroris”, bukan “intimidator”.

“Pengakuan” Prof Darni tentang adanya upaya teror dalam pemilihan rektor sungguh disesalkan. Sesalan ini bukan karena Darni telah mengakui dengan jujur tentang kondisi akademisi, melainkan disesalkan karena Darni mengakui adanya perilaku akademisi yang suka meneror, sehingga dia pun harus menyelamatkan guru besar dari ancaman teror. Betapa pilu batin ini, ternyata intimidasi telah merasuki dunia kampus yang seharusnya bebas dari manuver politik kotor.

Kekuasaan terkadang dapat membuat manusia kehilangan akal sehat. Dunia kampus yang seharusnya mampu membebaskan diri dari premordialisme terkadang dirasuki birahi jahat untuk melakukan berbagai upaya demi kursi tertentu. Adakalanya ada akademisi yang rela menjual harga diri berupa penipuan publik semisal penabalan gelar yang sesungguhnya belum dia gapai, misalnya Bapak F yang sebenarnya masih berijazah S1 tetapi membubuhkan tanda tangan di lembaran KRS dengan gelar F, M.Ag. Merujuk pada definisi KBBI, sebenarnya fenomena ini dapat digolongkan dalam intimidasi yang mana hendak menciptakan image pada mahasiswa bahwa dirinya sudah magister yang tidak setara dengan gelar yang bakal diraih mahasiswa S1.

Sebagian kalangan tidak akan mampu melihat pergerakan intimidasi ala kampus ini, karena pelakunya adalah konseptor ulung berdaya jual tinggi alias pemegang jabatan bermoda tinggi. Namun yang kita rasakan saat ini mereka melakukan segalanya dengan sapaan lembut tapi jauh dari maknanya adalah menikam mesra untuk mengoyak ‘daging’ panas akademis yang baru disembelih olehnya.

Mahasiswa atau alumni penyampai kritik yang sebenarnya adalah bagian dari dakwah terkadang “diinterogasi” dengan berbagai cara. Bagi mereka yang bermental kerdil, “interogasi” ini tentu saja dapat menyurutkan semangat dalam melancarkan kritikan susulan. Hal ini tidak pantas terjadi di Perguruan Tinggi (PT), karena akademisi harus menjungjung tinggi perbedaan pendapat dan menghargai masukan walau masukan itu berasal dari makhluk hina sekalipun. Kata pepatah Arab, lihat isi pembicaraan dan jangan melihat siapa yang menyampaikannya.

Adanya intrik-intrik politik dalam pemilihan apakah rektor, dekan maupun ketua jurusan telah menuai hawa busuk akademisi. Merespon fenomena ini akan bermuara pada dua golongan intelektual. Golongan pertama adalah kelompok pemikir bijaksana tapi dibajak. Perumpaan ini berlaku bagi mereka yang memiliki kapasitas ilmu praktis, tetapi rendah kadar gelar kesarjanaan, sehingga kelompok ini dibawa arus hina akademisi yang menumpangnya agar mendapatkan label tenar.

Sementara golongan kedua adalah kelompok yang bersahaja berpikir akademis tapi terbungkam oleh penguasa yang antikritik. Kelompok ini loyal dan memiliki jenjang pendidikan yang mapan, tetapi keberadaannya hanya dijadikan simbol pengentasan ‘kemiskinan’ akademisi kampus tempat ia mengabdi. Mereka hanya menjadi simbol pengharum kampus dan perannya dimarginalkan. Kita geram pada kelompok ini karena tidak berani melawan intimidasi secara terbuka, melainkan memendamnya di dalam batin dan berkeluh kesah di hadapan anak didikan. Andai fenomena dibiarkan, maka ditakutkan akademisi bersih pamit dan meninggallah kampus dengan aneka kekurangan dengan kriteria khusus S2 (Sanak Saudara) dan S3 (sudah sangat sukses mengelabui).

Manuver Koersif

Ilmu komunikasi menjadi multi disiplin ilmu di segala bidang. Sikap, perilaku, opini dan tingkat sosial yang digebrak akan mencapai taraf kesuksesannya ketika pola komunikasi dengan cara informatif sejalan dengan pembubuhan konsep persuasif. Persuasif dipahami sebagai proses komunikasi yang mengajak, membujuk, menasehati sekaligus mempengaruhi lawan bicara. Cara ini pantas dijalankan dalam keseharian terlebih bagi akademisi, dengan meninggalkan pola intimidasi apalagi teror (koersif).

Praktik intimidasi ala kampus berupa upaya membungkam tatanan sebuah akademisi yang sehat sejatinya dilenyapkan. Perlu kiranya menunjukkan suri tauladan demi torehan generasi bermoral pendidik sekaligus patron bagi generasi penerus, sehingga kegelisahan Helmy N Hakim akan adanya intimidasi berkelanjutan di panggung demokrasi dapat disapu. Ada baiknya akademisi terutama dari kampus gaung syariat Islam (Dakwah) merenungi kembali suri tauladan yang diperankan Rasulullah SAW. Selain mengemban tugas dakwah, Rasulullah memimpin dengan konsep politik keislaman yang menghadirkan kader politisi berkepribadian islami (syaksiyyah Islamiyyah). Rasululllah hadir membujuk, menasehati dengan suri tauladannya sehingga objek yang ia hadapi akan menerima dengan terbuka dikarenakan tidak ada sedikitpun upaya intimidasi yang dijalankannya. Perilaku Rasulullah kiranya perlu kita hadirkan, bukan sekedar menjadi pemanis lisan dalam berujar, bukan pula laksana pepatah lempar batu sembunyi tangan, karena gaya ini cuma dimainkan oleh pecundang yang tidak santun. []

*Penulis adalah Dosen Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Teuku Umar (UTU).

(Artikel ini telah dimuat pada kolom Opini Serambi Tahun 2011)

Komentar :

Lainnya :