Dosen UTU Ikuti Diskusi “Kedaulatan Pangan” Bersama Pakar
  • UPT_TIK
  • 01. 05. 2021
  • 0
  • 254

MEULABOH, UTU – Dosen Universitas Teuku Umar (UTU), termasuk juga sivitas akademika dari berbagai perguruan tinggi negari dan swasta lainnya di Indonesia, kembali mengikuti diskusi tentang ‘kedualtan pangan’ bersama para pakar dari Kemendikbud RI, akademisi dan dari pelaku bisnis lainnya, sabtu sore, 01 Mei 2021.

Topiknya adalah: Sosialisasi Membangun Kedaulatan Pangan Melalui Ekosistem Reka Cipta. Diskusi kali ini dipandu oleh Angelina Wiliana (mahasiswa berprestasi ITB 2021/Prodi Rekayasa Hayati IPB). Kegiatan sosialisasi juga diikuti insan pers media, dan pengamat kedaulatan pangan. 

Narasumber Sosialisasi Membangun Kedaulatan Pangan Melalui Ekosistem Reka Cipta adalah Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (SDM) Kementeran Pertanian RI, Prof. Nizam, M. Sc.,DIC, Ph. D (Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI), Dr. Ir. Paristiyanti Nurwardani, M.P (Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI), Prof. Dr. Arif Satria, SP.,M.Si (Rektor IPB), Pamitra Wineka (CEO TaniHub Group), Dr. Toni Perdana, SP.,MM, Achmad Aditya Maramis, Ph.D (Koordinator Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Ditjen Dikti), dan Moderator adalah Angelina Wiliana (mahasiswa berprestasi ITB 2021/Prodi Rekayasa Hayati IPB). 

Dedi Nursyamsi antara lain mengatakan, sektor pertanian penyumbang tertinggi pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi. Disaat pandemi, ternyata sektor pertanian masih tumbuh menggeliat positif. Meskipun didera covid-19, namun pertumbuhan sektor pertanian masih meningkat, dibandingkan dengan sektor lain. 

Sektor pertanian ini sebagai bantalan . Akibat pendemi, banyak sekali tenaga kerja yang di-PHK, ternyata yang mampu menampung tenaga kerja PHK itu adalah sektor pertanian. Kedaulatan pangan adalah tugas kita bersama. Saat ini, kita harus lakukan transformasi pertanian secara modern, dengan memanfaatkan alat mesin pertanian sehingga produktifitas lebih efektif.

Bagaimana reka cipta di lingkungan kementerian pertanian mampu mendukung kedaulatan pangan. “Ini bisa bergerak dari hulu sampai hilir, ini yang harus digenjot untuk mencapai kedautalan pangan.”

Prof. Satria…….deteksi pintar kesehatan tanaman padi. Deteksi kepintaran tanaman buah, inovasi produktifitas IPB, teknologi budaya kedelai, peningkatan ukuran ubi, produktifitas bawang merah, kacang tunggak, cabai bonita, beras analog, rumpun ayam IPB. Dan inovasi IPB untuk substitusi impor, diversifikasi pangan dan obat herbal, inovasi sosial, inovasi pertanian rakyat.

Sebelumnya Prof. Nizam antara lain mengatakan, diskusi kedaireka itu untuk membangun kedaulatan indonesia dalam reka cipta, semangat untuk membangun ketahanan pangan, semangat membangun desa, semangat membangun perekonomian, semangat untuk cinta produk dalam negeri, dan semangat teknologi.

Menurut Prof. Nizam, Kreativitas adalah kunci semangat untuk membangun kemajuan ke depan. Salah satu kelebihan bangsa Indonesia dibandingkan dengan bangsa lain di dunia ini adalah kreativitas. “Namun, kondisi kita masih memprihatinkan. Kenapa dalam reka cipta kita masih terlalu banyak bergantung pada lisensi Negara lain, dalam hal industry misalnya, 92 persen dari teknologi yang kita digunakan itu mendasarkan pada lisensi.

Kreatifitas itu dapat diamati dan dilihat dari beragam budaya, berbagai pakain daerah, bahasa, beragam mainan anak-anak dan segala macam budaya, ada di Indonesia. Bahkan, Indonesia termasuk nagara yang kaya dengan berbagai macam buah-buah ada, tapi kenapa harus impor buah-buahan dari luar negeri. Alat-alat kesehatan 95 persen impor. 

“Seharusnya kita menjadi negara pengekspor dari hasil buah-buahan dan dari kekayaan hasil bumi lainnya. Untuk itu, bagi sivitas akademika perguruan tinggi dengan kemampuan reka citanya harus menjadi mata air bagi pembangunan bangsa dan pembangunan ekonomi ke depan”, ujar Prof. Nizam. (***)  

Lainnya :