Dosen UTU Dibahani 'Best Practice Kurikulum Merdeka Belajar OBE'
  • UTU News
  • 01. 05. 2021
  • 0
  • 279

MEULABOH, UTU – Dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Teuku Umar (FISIP-UTU) mendapat pencerahan materi tentang ‘Sosialisasi dan Best Practice Kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka- Outcome Based Education (MBKM OBE)’ dari dosen pakar ilmu komunikasi, via zoom meeting, Sabtu, 01 Mai 2021.

Pembicara pada sosialisasi dan Best Practice Kurikulum MBKM-OBE adalah Dr. Ido Prijana Hadi (Ketua Aspikom Korwil Jawa Timur), dan Dr. S. Bekti Istiyanto (Universitas Jenderal Sudirman). Sedangkan acara dipandu Dr. Frida Kusumastuti.

Ido antara lain menjelaskan, tentang konsep pembelajaran berbasis luaran. Outcome Based Education (OBE) merupakan pendekatan yang menekankan pada keberlanjutan proses pembelajaran secara inovatif, interaktif dan efektif adalah bukan tentang apa yang diajarkan dosen, tetapi tentang apa yang dicapai para mahasiswa.

Menurut Ido, konsep kunci dan prinsip OBE yang pertama adalah mendesain kurikulum mundur, tetapkan prospek profesi, kebutuhan pasar dan capaian pembelajaran lulusan. Kedua, fokus pada kompetensi/hasil pembelajaran (learning outcomes). Ketiga, keselarasan konstruktif (constructive alignment) antara profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan, capaian pembelajaran mata kuliah, metode pembelajaran dan metode asesmen.

Dijelaskan, pembelajaran keselarasan konstruktif (constructive alignment). Constructive berasal dari teori konstruktivis bahwa peserta didik menggunakan aktivitas mereka sendiri untuk membangun pengetahuan mereka sebagaimana ditafsirkan melalui skema mereka sendiri yang ada. Alignment merupakan prinsip dalam teori kurikulum yang tugas penilaian harus diselaraskan dengan apa yang dipelajari mahasiswa dalam kurikulum prodi, sampai pada penilaian yang mengacu pada kriteria.

Sedangkan Bekti Istiyanto dalam paparannya menyampaikan perubahan paradigma belajar dan kebutuhan di dunia kerja. Dalam perubahan paradigma belajar tersebut menurut Bekti, dosen hanya sebagai pendamping belajar, dosen sebagai fasilitator pembelajaran, mahasiswa yang dituntut aktif belajar dan fokus pada luaran pembelajaran.

Perubahan paradigma belajar itu, nantinya akan berdampak pada tuntutan dunia kerja dan kebutuhan inovasi. Pembelajaran kekinian, basisnya bukan hanya materi yang dikuasai mahasiswa tetapi luaran hasil pembelajaran yang bagaimana. Kurikurum berbasis luaran, perubahannya didasari oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan dunia kerja. Tuntutan untuk akreditasi 4.0 terbaru yang berorientasi luaran sebagai basis penilaian prodi, terutama kriteria 6 dan 9 tentang pendidikan dan luaran capaian.(***)

 

Lainnya :